Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik
Table of Contents
Assalamu Alaikum Wr. Wb. Salam dan Bahagia
Pada kesempatan ini saya Sulaiman Calon Guru Penggerak angkatan 7 dari SD Negeri 2 Buga Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi tengah, disini saya akan menuliskan tentang Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.3 coaching untuk supervisi akademik. Jurnal refleksi Dwi Mingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Jurnal dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Dalam pembuatan jurnal refleksi ini, saya menggunakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).4F dapat diterjemahkan menjadi 4P Facts (Peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan), yang digunakan sebagai panduan dalam melakukan refleksi.
Facts (Peristiwa)
Pada modul 2.3 tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik, aktivitas pembelajaran diawali dengan sesi refleksi diri, yang melibatkan menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif terkait supervisi akademik dan pengembangan kompetensi diri guru sebagai pemimpin pembelajaran. Saya membuat sebuah flipbook berisi jawaban dari pertanyaan reflektif untuk merefleksikan diri saya tentang supervisi akademik di sekolah saya. Kemudian, kami melakukan eksplorasi konsep dengan mempelajari modul ini, yang terbagi ke dalam empat Sub Pembelajaran, yaitu 2.1 Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan, 2.2 Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching, 2.3 Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching, 2.4 Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching. Setiap sub pembelajaran menjelaskan perbedaan antara coaching, mentoring, konseling, fasilitasi, dan training.
Coaching didefinisikan sebagai proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Untuk memberdayakan rekan sejawat, kami dibantu dengan materi video praktik coaching beserta contohnya, yang membantu saya memahami bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Sebagai coach, untuk dapat membantu coachee mengembangkan kompetensi diri dan menjadi otonom, kita perlu memiliki paradigma berpikir coaching terlebih dahulu, yaitu fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat dan mampu melihat peluang baru dan masa depan. Sebagai coach dalam melakukan percakapan coaching kepada coachee dengan prinsip coaching, kami menggunakan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab), yang diharapkan akan membuat komunikasi mengalir dengan baik.
Modul ini juga membahas inti coaching, yaitu kehadiran penuh kepada coachee, menjadi pendengar aktif dan keterampilan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching. selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi antar CGP. kegiatan selanjunya yakni ruang kolaborasi saya berpasangan dengan rekan sejawat yakni ibu guru Andi Masna melakukan sebuah percakapan coaching secara bergantian peran sebagai coach dan coachee dan hasil percakapan direkam dalam bentuk video kemudian diunggah sebagai salah satu tugas dari LMS. Kemudian lanjut kegiatan tugas demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 3 orang terdiri dari Sulaiman, Syaryanto dan Kasmina, kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi pengamat, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee. kami melakukan secara berganti peran, kegiatan ini kami laksanakan lewat tata maya (google meet) karena tempat tugas berjauh dan juga bertepatan waktu bulan puasa, dari kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi pengamat, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi. hasilnya rekaman video kami unggah di LMS. Selanjutnya kegiatan elaborasi pemahaman bersama La Siara, S.Pd.,M.Pd membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi. Dan kemudian saya membuat video presentasi kesimpulan tentang koneksi antar materi modul 2.3 dengan mengaitkan pada materi modul sebelumnya. selanjutnya, membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervisi akademik yang akan dilakukan dengan rekan sejawat saya di sekolah
Berikut ini tugas modul 2.2 yang saya unggah di LMS:
- Mulai dari Diri
Alur pertama yaitu Mulai dari Diri - Modul 2.2. saya dokumentasikan di fliphtml dengan tautan:
- Eksplorasi Konsep
Lembar refleksi diri:
- Ruang Kolaborasi
Pada alur ketiga yaitu ruang kolaborasi yang dibagi menjadi dua sesi. Hasil dari diskusi ruang Kolaborasi kelompok saya bisa dilihat tautan:
- Demonstrasi Kontekstual
Pada alur keempat yaitu Demonstrasi kontekstual saya:
- Koneksi Antar-Materi
Pada alur keenam yaitu koneksi antar materi modul 2.3 saya buat simpulan dalam fliphtml yang bisa diakses melalui tautan: https://online.fliphtml5.com/rbatd/otry/
- Aksi Nyata
Pada alur ketujuh yaitu Aksi nyata, Di aksi nyata ini saya melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat saya di sekolah
Feeling (perasaan)
Dalam mempelajari Modul 2.1 tentang coaching untuk supervisi akademik, awalnya saya merasa ragu saat melakukan praktik coaching. Namun, tantangan tersebut menjadi peluang untuk menaklukkan keraguan saya. Saya menggunakan alur TIRTA dalam praktik coaching, yang membuat saya lebih terarah dan terfokus. Meskipun belum sempurna, saya merasa senang dan tertantang untuk terus mempraktikkan coaching dengan baik. Dalam hal ini, latihan yang kontinu sangat diperlukan agar coaching dapat berjalan lancar dan coachee dapat mencapai tujuannya.
Praktik coaching juga mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan matang dalam aspek sosial-emosional. Selain itu, saya merasa senang karena dapat melakukan praktik coaching langsung bersama rekan CGP, sehingga pemahaman saya tentang modul 2.3 menjadi lebih baik. Meskipun saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam praktik coaching saya, hal ini membuat saya semakin bersemangat untuk belajar lebih banyak lagi tentang coaching, seperti bagaimana membuat pertanyaan yang bermakna dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.
Findings (pembelajaran)
Modul 2.3 tentang coaching telah memberikan saya banyak informasi, pengetahuan, dan pengalaman baru yang memperluas pemahaman saya tentang bagaimana menjadi seorang coach yang baik dan melakukan supervisi akademik yang efektif dalam membantu pengembangan diri rekan sejawat. Sebagai bagian dari program Pendidikan Guru Penggerak, kami diharapkan untuk menjadi supervisor atau kepala sekolah yang memiliki paradigma berpikir dan keterampilan coaching dalam rangka pengembangan diri dan rekan sejawat.
Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, di mana coach memfasilitasi peningkatan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi coachee (Grant, 1999). Selain itu, Whitmore (2003) mengatakan bahwa coaching adalah kunci untuk membuka potensi seseorang dan memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih mengarah pada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Kompetensi Inti Coaching meliputi kehadiran penuh (Presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. Selain itu, terdapat alur TIRTA yang terdiri dari percakapan untuk perencanaan, pemecahan masalah, berefleksi, dan kalibrasi. Umpan Balik berbasis Coaching terdiri dari Umpan Balik dengan Pertanyaan Reflektif dan Umpan Balik menggunakan data yang valid.
Supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak langsung pada pendidik dan kegiatan pembelajaran mereka di kelas. Dalam pelaksanaannya, terdapat dua paradigma utama yang menjadi landasan kita menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yaitu paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan memaksimalkan potensi setiap individu.
Future (penerapan)
Setelah mempelajari modul 2.3, saya berencana untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang coaching, serta terus semangat dalam belajar dan berlatih mempraktikkan paradigma berpikir coaching dan percakapan coaching kepada rekan sejawat dan murid. Saya akan terus meningkatkan kompetensi inti coaching seperti kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, sehingga dapat memperkuat peran saya sebagai pemimpin pembelajaran dan coach bagi rekan sejawat lain.
Demikian jurnal refleksi dwi mingguan modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik saya sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 7
Semoga bermanfaat. Salam Guru Penggerak! dan Jangan Lupa bahagia


Post a Comment