Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid

Table of Contents

Assalamu Alaikum Wr. Wb. Salam dan Bahagia
Pada kesempatan ini saya Sulaiman Calon Guru Penggerak angkatan 7 dari SD Negeri 2 Buga Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi tengah, disini saya akan menuliskan tentang Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Jurnal refleksi Dwi Mingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Jurnal dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Dalam pembuatan jurnal refleksi ini, saya menggunakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).4F dapat diterjemahkan menjadi 4P Facts (Peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan), yang digunakan sebagai panduan dalam melakukan refleksi.


Facts (Peristiwa)

Setelah mempelajari modul 3.2, saya melanjutkan ke materi modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Modul ini merupakan paket modul terakhir CGP Angkatan 7. Pada hari Senin, 15 Mei 2023, saya mulai dengan refleksi diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan pemantik yang berkaitan dengan program yang berdampak bagi murid. Pada hari yang sama, saya melanjutkan eksplorasi konsep belajar mandiri melalui eksplorasi konsep dalam LMS. Pada fase ini, calon guru penggerak diminta untuk refleksi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan pemantik yang diajukan, serta memberikan umpan balik terhadap jawaban dari calon guru penggerak lainnya. Selain itu, kami juga mempelajari konsep kepemimpinan murid (student agency), cara menumbuhkan kepemimpinan murid melalui voice (suara), choice (pilihan), dan ownership (kepemilikan), serta mempelajari profil pelajar Pancasila, karakteristik lingkungan yang mendorong kepemimpinan murid, dan program yang berdampak bagi murid.

Pada hari Senin, 22 Mei 2023, kegiatan selanjutnya adalah ruang kolaborasi yang dilakukan melalui diskusi dan presentasi. Pada sesi pertama ruang kolaborasi, kami dipandu oleh fasilitator Ibu Reti Abdullah, M.Pd. CGP melakukan diskusi dengan teman kelompok yang sudah dibagi. Diskusi berlangsung selama 90 menit mengenai program yang berdampak pada murid. Keesokan harinya, kami melanjutkan sesi presentasi dalam ruang kolaborasi sebagai kelanjutan dari pertemuan sebelumnya. Hasil diskusi Ruang Kolaborasi kelompok saya dalam bentuk flipbook dapat dilihat di sini:



Selanjutnya, kami melanjutkan dengan Refleksi Terbimbing dan Demonstrasi Kontekstual. Demonstrasi kontekstual merupakan rancangan program yang berdampak pada murid dengan menggunakan tahapan BAGJA, singkatan dari buat pertanyaan, ambil pelajaran, gali mimpi, jabarkan rencana, dan atur eksekusi. Tugas ini harus saya unggah di LMS dan batas akhirnya adalah tanggal 25 Mei 2023 dalam bentuk flipbook:  https://online.fliphtml5.com/rbatd/ocyy/

Kegiatan selanjutnya adalah elaborasi pemahaman. Saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan yang dapat memperkuat pemahaman saya tentang isi modul 3.2. Beberapa pertanyaan yang akan memperkuat pemahaman saya terkait materi konsep di modul 1.4 adalah sebagai berikut
Setelah mempelajari materi kepemimpinan dalam pengelolaan sumber daya, saya kembali mengingat masa sekolah saya sebagai seorang murid. Saya merasa bahwa murid saya saat ini kurang mandiri, terutama dalam kegiatan sekolah di luar pelajaran seperti acara perpisahan, acara maulid, dan isra miraj Nabi Muhammad SAW. Guru lebih dominan dalam mengurus kegiatan tersebut. Sebagai siswa, seharusnya mereka diberi kebebasan dan kepercayaan penuh untuk membuat acara mereka sendiri, sementara guru hanya berperan sebagai pengawas dan memberikan arahan jika diminta oleh murid. Saya ingin mengubah kebiasaan ini, tetapi saya bingung harus mulai dari mana dan melibatkan siapa. Mengapa saya ingin melakukan perubahan ini? Karena saat saya masih sekolah dulu, saya merasa sangat bahagia bisa mengurus sendiri study tour kita. Bahkan menentukan anggaran adalah tugas kami sebagai murid. Rasanya seperti benar-benar kegiatan dari murid untuk murid, sementara guru hanya diminta untuk membimbing dan menemani. Semua urusan diurus oleh murid.
Pertanyaan saya adalah: 
  1. langkah apa yang harus saya ambil agar bisa mengubah kebiasaan di sekolah saya sehingga kegiatan siswa di sekolah dipercayakan kepada siswa itu sendiri, sementara guru hanya berperan sebagai pembimbing, bukan masuk ke dalam kepanitiaan?
  2. Bagaimana langkah-langkah yang harus saya ambil untuk merubah kebiasaan di sekolah saya sehingga kegiatan siswa di sekolah dipercayakan kepada siswa itu sendiri, sementara guru hanya berperan sebagai pembimbing dan tidak masuk ke dalam kepanitiaan?



Pada Kamis, 25 Mei 2023, dilakukan kegiatan elaborasi pemahaman melalui diskusi virtual melalui ruang Google Meet bersama instruktur Bapak Drs. H. Lukman, M.Pd. Di sini, kami mendapatkan penguatan tentang modul 3.3 ini. Kegiatan selanjutnya adalah menghubungkan materi pada sesi ini dengan modul yang telah dipelajari sebelumnya. Sebagai CGP, kami diminta untuk memperoleh pemahaman dan menggali keterhubungan antara materi program yang berdampak pada murid dengan materi sebelumnya. Hasil koneksi antar materi dalam bentuk flipbook dapat dilihat di sini:  https://online.fliphtml5.com/rbatd/zakh/ 

Kegiatan terakhir adalah aksi nyata, yaitu calon guru penggerak diminta untuk mengimplementasikan tahap BAGJA pada tahap buat pertanyaan dan ambil pelajaran pada program yang telah dibuat.

Findings (pembelajaran)

Perasaan setelah mempelajari modul terakhir dari pendidikan guru penggerak ini adalah luar biasa. Saya merasa senang dan bersemangat karena mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Modul dengan judul "Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid" ini sangat menarik untuk dipelajari. Karena tujuan pendidikan adalah membimbing murid untuk menumbuhkan kepemimpinan sehingga mereka dapat hidup sebagai anggota masyarakat. Kepemimpinan murid adalah saat murid dapat mengambil peran dalam menentukan kegiatan pembelajaran yang mereka inginkan. Dalam modul ini, saya mendapatkan pemahaman tentang bagaimana membuat program yang melibatkan murid. Keterlibatan murid dalam sebuah program membuat mereka antusias dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan, serta membuat mereka merasa memiliki kegiatan yang mereka lakukan.

Perasaan yang muncul setelah mempelajari modul ini adalah perasaan senang, bersemangat, dan bersyukur karena dapat mempelajari modul tentang program yang berdampak pada murid melalui pendidikan guru penggerak. Pada tahap akhir pendidikan guru penggerak ini, saya semakin memahami bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan berdampak pada murid. Oleh karena itu, diperlukan peran sebagai pemimpin pembelajaran yang mendorong ekosistem sekolah untuk selalu memprioritaskan kepentingan murid. Sebagai calon guru penggerak, saya berharap dapat menerapkan ilmu yang telah saya peroleh dalam pendidikan guru penggerak untuk mengembangkan komunitas sekolah.

Sejak awal mengikuti program pendidikan guru penggerak ini, motivasi saya adalah untuk terus mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan zaman. Hal yang telah baik dalam proses belajar saya adalah kemampuan untuk berkolaborasi dalam menciptakan program yang mewujudkan kepemimpinan murid. Namun, hal yang perlu diperbaiki dalam proses belajar saya adalah sebelumnya belum melibatkan kepemimpinan murid dalam kegiatan baik intrakurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler. Saya belum memberikan suara, pilihan, dan kepemilikan kepada murid. Ke depannya, saya akan melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid dalam pembuatan program dan kegiatan di sekolah agar terwujudnya kepemimpinan murid.

Sebagai seorang pendidik dan pemimpin pembelajaran, penting bagi kita untuk memiliki kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian. Hal ini terkait dengan kekuatan diri kita dalam memberikan pembelajaran kepada murid. Dengan kompetensi yang dimiliki sebagai kekuatan, kita harus memaksimalkan potensi yang ada dalam diri murid dan membimbing mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.

Findings (pembelajaran)

Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara disebutkan bahwa murid bukanlah tabularasa, bukan kertas kosong yang bebas digambar oleh orang dewasa, mereka sudah memiliki garis samar yang hanya perlu ditebalkan oleh orang dewasa dalam hal ini guru. Dalam diri murid sudah memiliki potensi masing-masing dalam dirinya yang perlu digali oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran. Maka guru hanya perlu menuntun murid agar dapat mewujudkan kepemimpinan dalam diri murid.

Student agency adalah Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka.

Mewujudkan kepemimpinan murid melalui suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran adalah pendekatan yang bertujuan untuk memberdayakan murid agar aktif dan berperan dalam pengambilan keputusan terkait dengan pembelajaran mereka sendiri.
  1. Suara (voice): Memungkinkan murid untuk mengungkapkan pandangan, ide, dan pendapat mereka dalam konteks pembelajaran. Dengan memberikan ruang untuk suara mereka, murid merasa dihargai dan diakui sebagai individu yang memiliki kontribusi berharga dalam pembelajaran. Suara murid dapat diungkapkan melalui diskusi kelas, presentasi, pertanyaan, dan partisipasi aktif dalam aktivitas pembelajaran. Dengan memberikan suara kepada murid, mereka merasa memiliki peran penting dalam membentuk dan mengarahkan proses pembelajaran.
  2. Pilihan (choice): Memberikan kesempatan kepada murid untuk membuat keputusan terkait dengan pembelajaran mereka. Murid diberi pilihan dalam hal seperti topik penelitian, metode pembelajaran, bahan bacaan, proyek, atau tugas. Dengan memberikan pilihan, murid dapat mengeksplorasi minat mereka sendiri dan mengambil tanggung jawab atas proses pembelajaran yang lebih personal. Pilihan ini mendorong motivasi intrinsik dan keterlibatan aktif dalam pembelajaran, karena murid merasa memiliki kendali atas apa yang mereka pelajari.
  3. Kepemilikan (ownership): Mendorong murid untuk memiliki tanggung jawab penuh terhadap pembelajaran mereka. Dalam konteks ini, murid dianggap sebagai pemilik proses pembelajaran mereka sendiri. Mereka mengembangkan pemahaman dan keterampilan dengan memikirkan tujuan mereka sendiri, membuat rencana belajar, mengevaluasi kemajuan mereka, dan merencanakan tindakan perbaikan. Dengan memiliki kepemilikan, murid merasa memiliki keterlibatan yang lebih kuat dalam pembelajaran, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi, kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis mereka.

Melalui pendekatan ini, mewujudkan kepemimpinan murid dalam pembelajaran menjadi lebih tercapai. Suara, pilihan, dan kepemilikan memberikan murid ruang untuk berkembang sebagai pemimpin pembelajaran mereka sendiri. Mereka belajar untuk mengambil inisiatif, mengasumsikan tanggung jawab atas pembelajaran mereka, dan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran mereka, tetapi juga membantu mereka mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kolaborasi, dan kemandirian yang diperlukan untuk berhasil dalam kehidupan mereka.

Future (penerapan)

Setelah mempelajari modul ini, terdapat beberapa perubahan dan penerapan ke depan yang ingin saya lakukan. Salah satunya adalah melibatkan murid melalui suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam pelaksanaan program-program di sekolah, baik itu program intrakurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler. Modul 3.3 tentang pengelolaan program yang berdampak positif pada murid telah mengubah paradigma dan pandangan saya. Saya menyadari bahwa melibatkan murid dalam semua tahapan program, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga refleksi, akan membuat mereka merasa lebih bersemangat untuk terlibat. Ini memberikan kesan positif bagi mereka karena mereka dapat berperan secara langsung, sehingga mereka merasa memiliki terhadap kegiatan yang mereka laksanakan. 



Demikian jurnal refleksi dwi mingguan Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Dayan saya sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Semoga bermanfaat. Salam Guru Penggerak! dan Jangan Lupa bahagia

"Sebagai pendidik jangan berhenti belajar, berkarya dan berbagi, teruslah semangat dan Jangan Lupa Bahagia."

Sulaiman Tolis
Sulaiman Tolis Teacher, Trainer, Youtuber

Post a Comment